BONE BOLANGO – Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Setda Kabupaten Bone Bolango, Tanwir Ali meresmikan maupun melakukan launching inovasi cluster model pengolahan komoditas aren menjadi bahan baku etanol dan gula semut di Desa Lonuo, Kecamatan Tilongkabila, Jumat (14/7).
Asisten II Tanwir Ali dalam sambutannya mengatakan, cluster model pengolahan komoditas aren ini merupakan salah satu inovasi dari Kepala Bidang Perencanaan Ekonomi dan Investasi, Bappeda-Litbang Kabupaten Bone Bolango Mohamad Dj. Kiayi yang juga peserta Diklat PIM III angkatan 16 PKP2A LAN RI Makassar tahun 2017.
Menurutnya, cluster model pengolahan komoditas aren ini menjadi sesuatu yang khas di Kecamatan Tilongkabila, utamanya di tiga desa yakni Desa Lonuo, Desa Tunggulo dan Desa Butu. Namun untuk saat ini, masih di fokuskan di Desa Lonuo sebagai langkah awal untuk memulai inovasi tersebut.
Tanwir mengungkapkan Desa Lonuo merupakan salah satu desa di Kecamatan Tilongkabila yang memiliki banyak tanaman pohon aren dan menghasilkan banyak air nira (dalam bahasa Gorontalo Bohito atau Saguer). Namun keberadaan air nira selama ini disalahgunakan dan dijadikan masyarakat maupun petani setempat sebagai bahan baku minuman keras (Miras) jenis Cap Tikus.
Karena itu, Tanwir Ali berharap mudah-mudahan dengan adanya inovasi pengolahan komoditas aren ini menjadi bahan baku etanol. Ini akan menjadi langkah maupun jalan keluar atau solusi yang tepat untuk memberhentikan dan mengubah kebiasaan negatif petani aren setempat selama ini yang mengolah air nira sebagai minuman keras jenis Cap Tikus.
Kata Tanwir Ali, kalau hanya ingin memberhentikan orang yang membuat Cap Tikus itu mudah sekali, tapi itu tidak akan maksimal. Karena ketika dihentikan disini pengolahannya, pasti ditempat lainnya muncul lagi.”Makanya inovasi inilah yang paling bagus sebagai alternatif dan menjadi solusi yang tepat untuk memberhentikan dan mengubah kebiasaan para petani aren selama ini yang mengolah air nira sebagai minuman keras jenis Cap Tikus,”urai Tanwir Ali.
Menurutnya, berbicara masalah etanol ini, adalah bahan baku yang sangat-sangat diperlukan.”Itu bahan baku dari spritus adalah bahan baku dari etanol, begitu juga alkohol yang di pakai di Rumah Sakit dan Puskesmas itu bahan bakunya dari etanol,”ulas Tanwir Ali.
Dia menambahkan, ini peluang besar bagi para petani dan pengolah komoditas aren. Tinggal bagaimana kita mengembangkan inovasi ini sekaligus tetap menjaga kualitasnya agar tetap bagus.”Saya kira ini peluang-peluang yang bisa kita manfaatkan, bagaimana merubah sesuatu dari negatif misalnya mengolah air nira dari aren sebagai minuman keras beralkohol jenis Cap Tikus, menjadi bahan baku etanol,”tambahnya.
Oleh karena itu, lanjut Tanwir Ali, inovasi ini perlu dukungan dari semua pihak, terutama Camat Tilongkabila, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas setempat.”Saya minta ini di dukung, kalau selama ini kita hanya menutup dan menangkap para pengolah minuman keras jenis Cap Tikus, maka mulai sekarang mari kita sama-sama membina bagaimana para petani dan pengelola aren ini bisa lebih meningkatkan taraf hidupnya.
“Insya Allah melalui inovasi pengolahan komoditas aren menjadi bahan baku etanol ini, pendapatan masyarakat petani dan pengolah aren disini semakin meningkat. Mari kita jaga dan terus kita kembangkan inovasi ini secara bersama-sama, sehingga ini menjadi satu kawasan maupun cluster yang berguna bagi masyarakat disini,”tutupnya. (Humas/AKP)