BONEBOL – Optimalisasi alat dan mesin pertanian (Alsintan) menjadi solusi dalam penanganan sektor pertanian yang terus diprogramkan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan) RI, karena salah satu manfaatnya adalah menekan biaya produksi. Bahkan hingga saat ini, program bantuan Alsintan terus dikucurkan Kementan RI ke pemerintah daerah. Misalnya, alat pengolah tanah berupa traktor baik roda dua (handtraktor) dan roda empat (dzondree), alat tanam ada transplanter (alat tanam padi) dan caplak (alat tanam jagung), untuk pemanenan ada corn combine (panen jagung) dan combine harvester (alat panen padi). Dimana pengelolaan Alsintan itu diserahkan dan menjadi tanggungjwab Brigade Alsintan dimasing-masing kecamatan yang dalam managemennya berada di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) se Kabupaten Bone Bolango. “Salah satu Alsintan yang terus digerakkan pemanfaatan di Bonebol adalah alat panen padi (combine harvester),”kata Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (DPP) Bonebol Roswaty Agus, saat diwawancarai dalam kunjungannya di lahan demplot Sekolah Lapang (SL) mekanisasi pertanian yang di kelola oleh BPP Bulango Timur di Desa Bulotalangi, Senin (22/10). Roswaty mengatakan, untuk menggerakan pemanfaatan Alsintan yang ada, maka Alsintan ini harus terus kita perkenalkan kepada para petani. Dengan harapan agar para petani mau dan bersedia memanfaatkan Alsintan tersebut. “Insya Allah, tahun depan sebagai dukungan dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan Alsintan ini, kami dari DPP Bonebol akan mengalokasikan bahan bakar minyak (BBM) untuk Alsintan yang ada di masing-masing brigade,”ujar Roswaty Agus. Sementara itu, dalam kunjungannya di lahan demplot SL mekanisasi pertanian yang di kelola oleh BPP Bulango Timur di Desa Bulotalangi, dengan luas lahan padi yang dipanen 1 hektar dengan variasi inpari 24 (beras merah) itu, Roswaty Agus tidak hanya melihat combine harvester beroperasi, tetapi juga mengoperasikan langsung Alsintan tersebut. “Ternyata cukup mudah mengoperasikan Alsintan ini. Olehnya saya berharap para penyuluh pun harus bisa mengoperasikan Alsintan sehingga operator tersedia sepanjang waktu,”tutur Roswaty. Kepala Bidang Penyuluhan DPP Bonebol Yoana Rahman menambahkan, dalam diseminasi teknologi ke petani, diperlukan kerja keras penyuluh. Karena mengubah pengetahun dan sikap petani terhadap teknologi baru tidak mudah. Olehnya itu, penyuluhan dan penyuluh akan terus melakukan pendampingan dan pengawalan terhadap berbagai teknologi. "Salah satu metode penyuluhan yang akan terus kita kembangkan adalah demonstrasi, baik percontohan untuk budidaya dan demonstrasi cara untuk mengoperasikan alsintan,”ujar Yoana Rahman. Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Sulastri Lamusu mengungkapkan, tidak hanya Alsintan yang akan digerakkan pemanfaatannya di Bonebol, tetapi juga pertanian organik akan diprogramkan, salah satunya adalah beras. Untuk itu, lanjut dia, luasan lahan sawah untuk budidaya padi organik akan terus ditingkatkan luasannya. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung program pemerintah daerah sebagai kabupaten yang mengembangkan pertanian organik. Menurutnya, memang pemasaran menjadi kendala utama dalam hal pengembangan pertanian organik. Karena secara umum, harga nyaris tidak memiliki perbedaan. Olehnya dibutuhkan intervensi pemerintah sehingga dapat memotivasi petani untuk melakukan budidaya pertanian organik. “Soal pemasaran, kita akan coba bantu melalui kebijakan pemerintah daerah sehingga produk organik dapat terjual. Apalagi beras merah, semoga dengan panen ini kita dapat mengembangkan dan meningkatkan luas lahan untuk budidaya beras merah (Inpari 24) nantinya,”papar Sulastri Lamusu. Ditemui secara terpisah, Koordinator BPP Bulango Timur Suwandi Said mengatakan, selaku penyuluh pihaknya akan terus mendiseminasikan teknologi pertanian. Sekaligus akan melakukan pendampingan dan pengawalan terhadap program pemberdayaan petani untuk peningkatan kesejahteraan petani.