BONEBOL – Kabupaten Bone Bolango kini memiliki salah satu fasilitas publik yang menjadi destinasi baru di daerah itu, yang disebut pendestrian Matobonebol. Artinya menjelaskan bahwa kepada masyarakat bahwa kawasan pendestrian itu sudah di Bone Bolango. Mato artinya sudah di dan Bonebol adalah Bone Bolango. Jadi Matobonebol jika diartikan sudah di Bone Bolango atau sudah di Bonebol.
Fasilitas yang dibangun Pemkab Bone Bolango tahun anggaran 2019 diperbatasan Kota Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango, tepatnya di Desa Toto Selatan, Kecamatan Kabila dan Desa Toto Utara, Kecamatan Tilongkabila ini punya kemiripan dengan Malioboro yang ada di Jogyakarta, yang kini ramai dikunjungi warga.
Pedestrian yang dilengkapi dengan fasilitas penunjang, seperti trotoar, tempat duduk, dan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) ini sengaja dibangun dan siapkan oleh pemerintah daerah setempat untuk memberikan pelayanan publik kepada masyarakat.
”Kawasan ini bukan hanya bisa dijadikan lokasi wisata, tetapi ini bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah menyiapkan ruang publik yang layak. Tidak hanya bagi pejalan kaki, pesepeda, pengendara sepeda motor dan mobil, tapi juga bagi para disabilitas. Diharapkan pendestrian ini juga bisa digunakan untuk berjualan oleh warga,"ujar Bupati Bone Bolango Hamim Pou saat meresmikan pendestrian Matobonebol, Jumat malam (18/10/2019).
Untuk itu, lanjut Hamim, pembangunan pendestrian di wilayah Kabupaten Bone Bolango akan terus dikembangkan di tahun-tahun mendatang.”Tahun depan, di Center Point Bone Bolango, kita buat pendestrian seperti ini sampai ke Kantor Bupati Bone Bolango. Kemudian juga di ibu kota-ibu kota kecamatan utama di Bone Bolango,”ungkap Hamim.
Hamim menambahkan, disamping pendestrian ini sebagai sarana rekreasi bagi masyarakat dan juga anak-anak muda. Mungkin masyarakat yang ingin jualan lesehan juga bisa di pendestrian ini. Tentu dengan beberapa persyaratan, yakni tidak boleh jual rokok, minuman keras dan buang sampah sembarangan.
Setiap pedagangan yang mau berjualan disini harus menyiapkan tempat sampah masing-masing dan memastikan setelah berjualan lokasi ini harus bersih kembali. Kalau itu tidak dipatuhi, maka tidak izinkan ada penjualan di pendestrian Matobonebol ini.”Kita harus memulai kebiasaan hidup bersih, tidak berbau, tidak ada sampah yang tercecer dan hal-hal lain, termasuk tidak ada penebangan pohon,”ujar Hamim.
Kedepan di pendestrian Matobonebol ini, lanjut dia, juga akan ditanami pohon-pohon pelindung supaya kawasan tersebut tambah hijau, sehingga siangnya orang bisa kumpul disini. Paling penting adalah anak muda milenial bisa selfi-selfi disini.
Olehnya itu, pendestrian ini harus dijaga, tidak boleh pendestrian ini hanya berusia 1-2 bulan kemudian rusak. Sayang sekali, biaya investasi pemerintah daerah mahal membangun pendestrian yang lengkap seperti ini.”Mari kita jaga bersama. Kalau ini terpelihara pemerintah daerah tidak perlu merawat, nanti kita punya uang lagi kita bisa buat lagi di tempat yang lainnya,”urai Hamim.
Karena itu, tanggung jawab warga disekitar lokasi, yakni warga Desa Toto Selatan dan Desa Toto Utara untuk menjaga pendestrian ini, termasuk melarang ternak-ternak ada di kawasan tersebut, terutama ternak sapi. Ia menyakini kalau warga dan para pengunjung tidak bertanggung jawab memelihara dan merawatnya, maka 1-2 bulan kedepan pendestrian itu akan hancur.
Karena itu, ia berharap masyarakat disekitar kawasan tersebut, termasuk pengunjung yang datang turut menjaga kebersihan dengan baik lingkungan sekitar, termasuk juga klub-klub motor berkampanye penggunaan helm yang baik, tidak menggunakan knalpot racing, dan memarkir secara baik.”Ini juga bagian edukasi masyarakat lewat kehadiran pendestrian Matobonebol,”paparnya. (HumasPro/AKP)

Foto : Pendestrian Matobonebol